Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Dadang Arifin Buka Diklat Penataan Batas Wilayah Kabupaten Kapuas Periode 15-19 Mei 2017

Cibinong, Berita Geospasial - Masalah batas wilayah menjadi menarik dan sensitif sejak jaman baheula. Banyak peperangan terjadi yang mengakibatkan banyak nyawa berjatuhan karena memperebutkan wilayah. Itu semua jika ditelusuri terjadi karena belum dikenalnya informasi geospasial (IG) sebagai dasar dan sarana untuk penataan batas wilayah. Hasilnya, jika sejak dulu IG difahami masyarakat, terutama para pengambil keputusan, banyak perang yang bisa dihindarkan.

Badan Informasi Geospasial (BIG) intens mendidik anak negeri untuk melek IG. Ini sesuai dengan fitrah BIG sebagai penyeleggara IG di negeri ini. Diantara yang dilakukan adalah dengan mengadakan Diklat Penataan Batas Wilayah oleh Balai Diklat Geospasial BIG. Salah satu diantaranya adalah Diklat Penataan Batas Wilayah Kabupaten Kapuas periode 15 - 19 Mei 2017 yang dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Diklat Geospasial BIG, Dadang Arifin, pada Senin, 15 Mei 2017 lalu.

Di  awal acara, Kepala Seksi Materi dan Kurikulum Balai Diklat Geospasial BIG, Eka Kurniawan melaporkan bahwa jumlah peserta Diklat Penataan Batas Wilayah kali berjumlah 30 orang yang kesemuanya berasal dari Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat. Lebih lanjut, Eka menyampaikan tentang tata tertib diklat dan syarat kelulusan diklat Diklat Penataan Batas Wilayah ini. “Para pengajar untuk diklat penataan batas ini, selain para widyaiswara yang ada di balai diklat geospasial BIG, juga dari Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PPBW) BIG”, ungkap Eka.

Hadir mewakili Setda Kabupaten Kapuas adalah Kepala Sub Bagian Pertanahan, Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah, Muhammad Indrajaya. Dalam sambutannya, Indrajaya menjelaskan bahwa di Kapuas belum semua desa selesai dipetakan. “Ini karena keterbatasan SDM yang memahami teknis pemetaan, khususnya terkait penataan batas. Saya berharap agar para peserta diklat dari Kapuas ini dibekali keahlian yang cukup tentang penataan batas”, ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Diklat Geospasial BIG, Dadang Arifin menyebutkan bahwa sekarang ini penataan batas menjadi tren. Dadang mengatakan, “Batas desa sekarang menjadi hal yang sangat strategis. Tingkat pembangunan, apalagi kebijakan pembangunan nasional diawali dari pinggiran, yakni desa. Dulu pemerintah mengambil langkah tentukan dulu batas negara, provinsi sampai kebawah, sekarang dibalik. Jika batas desa ssudah beres, batas ke atasnya akan beres juga. Ini karena desa adalah ujung tombak pembangunan”.

 

Lebih lanjut, Dadang menyampaikan bahwa dalam penataan desa, banyak terkait yuridis dan teknis. Dadang berharap agar setelah memahami diklat penataan batas wilayah ini, para peserta memahami prosedur, pelacakan dan menetapan batas wilayah. Acara diklat secara resmi dibuka. Dadang Arifin dan Muhammad Indrajaya kemudian memasang tanda peserta diklat secara simbolis kepada Ary Irawan dan Nofri Dwi Iswanto. Rangkaian acara pembukaan diakhir dengan foto bersama pejabat, widyaiswara dan peserta diklat di depan Gedung T, Balai Diklat Geospasial BIG. (ATM)