Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Berbagi Ilmu Geospasial Bersama Serdik Dikpa Geografi

Cibinong, Berita Geospasial BIG – Informasi Geospasial merupakan data geospasial yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian demikian bunyi kutipan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU-IG). Berbekal landasan Undang-Undang tersebut ada himbauan untuk mendorong penggunaan Informasi Geospasial (IG) ke dalam penyelenggaraan pemerintahan dan ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya penerimaan kunjungan dari masyarakat.

Selasa 23 Mei 2017, BIG menerima kunjungan dari Peserta Pendidikan Perwira Geografi (Serdik Dikpa) Pusdiktop Kodiklat TNI AD. Sebanyak 10 Siswa Serdik Dikpa perwakilan beberapa Kodam dari seluruh Indonesia bertandang ke BIG untuk belajar mengenai Pengolahan Citra Satelit. Ruang Rapat Utama gedung A lantai 2 menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini sejak pukul 9 pagi tepat.

Wiwin Ambarwulan, Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama bersama tim penerima kunjungan menerima para tamu ini dengan penuh sukacita. Wiwin dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih atas kunjungan yang dilakukan oleh Serdik Dikpa Geografi ini. Informasi Geospasial memerlukan banyak sumber data termasuk dari militer supaya Kebijakan Satu Peta yang dicanangkan Pemerintah Pusat bisa terwujud dan bisa digunakan bagi kepentingan bersama termasuk untuk militer. Letkol CTP Ceceng dari Pusdiktop Kodiklat TNI AD juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas diterimanya para peserta Serdik Dikpa Geografi ini sehingga bisa belajar ilmu Geospasial di tempat yang benar. Ceceng mempersilakan semua peserta Serdik Dikpa Geografi ini untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik- baiknya dan materi yang didapat dari BIG supaya ditularkan ke Kodam nya masing-masing mulai dari Aceh hingga Papua.

Setelah penyampaian kata sambutan dari BIG maupun Pudiktop Kodiklat TNI AD dilakukanlah tukar menukar cinderamata. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi yang dimoderatori oleh Akbar Hiznu. Akbar mendapat giliran pertama untuk menyampaikan informasi mengenai Profil BIG. Sedikit permainan mengasah otak diberikan Akbar untuk para tamu BIG ini diantaranya mengenai 10 Negara yang berbatasan dengan Indonesia baik darat maupun laut.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh Bapak Agus Hikmat, Kepala Bidang Pemetaan Rupabumi Skala Kecil dan Menengah pada Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) menyampaikan materi dengan judul Topografi Untuk Analisa Medan. Peta Rupabumi Indonesia (RBI) identik dengan peta Topografi dengan ciri khas adanya layer kontur didalamnya. RBI merupakan bagian dari Informasi Geospasial Dasar (IGD) dengan Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dan Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) sebagai pendukungnya. Sesuai Kebijakan Satu Peta yang tertera pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta Pada Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000 disampaikan bahwa peta dibuat dengan 1 Georeferensi, 1 Sistem Koordinat, 1 Geoportal dan 1 Database. Pada presentasinya, Agus menyampaikan mengenai proses bisnis pembuatan RBI yang dimulai dari Ground Control, Pemotretan Udara, Stereoplotting hingga Validasi Data Lapangan yang biasanya diperlukan untuk kegiatan Toponim (pemberian nama-nama Geografi). Bila pada kegiatan pengambilan data ditemukan wilayah tidak jelas karena cuaca berkabut, maka Data Radar diperlukan untuk mendukung Data Citra yang tidak jelas tersebut. BIG menggunakan Digital Terrain Model (DTM) dalam melakukan koreksi foto image untuk mendukung citra satelit. Direktorat Topografi Angkatan Darat (DITTOPAD) menyediakan peta khusus topografi untuk kepentingan militer dan BIG mengajak DITTOPAD untuk mendukung pelaksanaan Kebijakan Satu Peta ini.

Lalitya Narieswari menjadi presenter berikut setelah Agus Hikmat. Narieswari merupakan peneliti di BIG, beliau menyampaikan presentasi mengenai Pengolahan Citra Satelit pada Pemetaan Mangrove. Indonesia merupakan salah satu negara pemilik kekayaan mangrove terluas di dunia sehingga diperlukan penanganan khusus dan campur tangan seluruh komponen bangsa termasuk militer juga. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merupakan walidata dari pemetaan mangrove. Ada sekitar 41 tema dari beberapa walidata yang sudah ditetapkan oleh Kepala BIG. Pada pemetaan Mangrove terdapat standar yang sudah disahkan oleh Badan Standardisasi Nasional dengan dikeluarkannya Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebagai informasi, SNI bersifat sukarela karena dalam segi penetapan melibatkan semua stake holder dengan konsensus sedangkan Peraturan Kepala (Perka) bersifat mengikat. Stake holder yang terlibat yakni Regulator, Produsen, Konsumen dan Industri. Pada pemetaan Mangrove, data utama yakni Citra Satelit Resolusi Tinggi dengan resolusi spasial 0.4 – 4 meter. Setiap pemetaan memiliki resolusi spasial tertentu yang sudah distandarkan dan tidak semua standar dikeluarkan dengan SNI karena tergantung dari kebijakan masing-masing walidata. Untuk SNI bidang geografi dan geomatika, BIG merupakan komite teknis dengan kode 07.01. Proses pengolahan Citra Satelit dimulai dari proses Radiometri (menghilangkan gangguan berupa awan dan atmosfir) lalu koreksi geometri dan terakhir interpretasi visual. Metode pengolahan tersebut secara harafiah hampir sama untuk kegiatan pemetaan dasar.

Sebagai penutup presentasi hari ini diwakili oleh Wulan Yustia Syahroni dari Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial (PPIG). Wulan mendemokan bagaimana cara mengakses portal geospasial dengan nama http://tanahair.indonesia.go.id/portal/landingpage. Kementerian Pertahanan yang merupakan induk dari Tentara Nasional Indonesia sudah masuk kedalam portal Informasi Geospasial ini. Data yang dimiliki Kementerian Pertahanan memang diberi kode khusus karena berhubungan dengan data operasional militer.

Seusai acara paparan materi dari 3 (tiga) narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta Serdik Dikpa Geografi ini begitu antusias memberikan pertanyaan diantaranya mengenai standar refensi dalam pembuatan citra pemetaan tematik dimana di dunia ada banyak standar seperti Mapinfo, USGS dan lain sebagainya dan BIG menyarankan untuk menggunakan referensi yang mengacu pada IGD yang berlaku di Indonesia lalu pertanyaan mengenai parameter klasifikasi analisa medan pada pengolahan citra satelit, sulitnya mendownload RBI pada Ina-Geoportal, dan terakhir mengenai mekanisme mendapatkan Pendidikan dan Pelatihan yang berhubungan dengan Informasi Geospasial. Berfoto bersama menjadi pamungkas dari kunjungan Serdik Dikpa Geografi hari ini. (AS/ME)