WORKSHOP GEOSPATIAL TECHNOLOGY ON SUSTAINABLE DELTA MANAGEMENT
RILIS PERS
Jakarta, 22-23 Nopember 2011
Wilayah delta secara morfodinamik terbentuk dari proses interaksi antara sungai dan laut. Delta merupakan daerah yang sangat subur, memiliki sumberdaya yang melimpah serta berbagai ekosistem unik terbentuk di dalamnya. Oleh sebab itu tidaklah heran jika di wilayah delta banyak ditinggali manusia sejak ribuan tahun lalu, terutama karena ketersediaan berbagai sumberdaya untuk menopang kehidupan, maupun letaknya yang cukup strategis dalam mendukung kelancaran transportasi khususnya air (sungai dan laut). Banyak kota-kota besar di dunia yang terletak di wilayah delta, seperti Jakarta, San Francisco, Ho Chi Minh, Rotterdam, Cairo, dan Calcutta. Indonesia merupakan negara paling banyak memiliki wilayah delta yang saat ini juga telah menjelma menjadi kota besar seperti Jakarta, Jambi, Palembang, Semarang, Surabaya, Balikpapan dan Merauke.
Disamping keuntungan yang ditawarkan, delta juga mempunyai banyak tantangan yang umumnya disebabkan oleh karena pertumbuhan manusia yang pesat dan pembangunan yang intensif di kawasan delta. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan kebutuhan dasar hidup serta berbagai kemajuan dalam berbagai bidang perindustrian, perdagangan, pertambangan, transportasi di wilayah delta yang telah berubah menjadi kota besar, maka berbagai permasalahan mulai bermunculan. Permasalahan yang mulai dikenali secara umum diantaranya; tingginya sedimentasi, intrusi air laut, penurunan permukaan tanah (land subsidence), pembabatan hutan mangrove, alih fungsi lahan, polusi air di sungai maupun laut. Permasalahan-permaslahan tersebut secara umum dapat mendorong ke arah penurunan kualitas lingkungan hidup. Permasalahan ini juga akan menjadi semakin serius dengan terjadinya perubahan iklim global jika delta tidak dikelola dengan benar.
Ada 3 kata isu kunci wilayah delta yang menunjukkan urgensi pengelolaan wilayah delta sesuai dengan fungsi dan kondisinya dalam kehidupan manusia, yaitu: valuable, vulnerable dan pressured. Wilayah delta sangat valuable karena merupakan wilayah sumber pangan, pusat pengembangan ekonomi, penyangga keberagaman hayati dan tempat tinggal bagi banyak orang. Di sisi lain, wilayah delta juga sangat vulnerable terhadap permasalahan seperti polusi, urbanisasi, banjir dan kekeringan, penurunan dataran dan erosi, serta turunnya kualitas lingkungan secara keseluruhan. Di sisi lain, tekanan (pressured) terhadap wilayah delta, dengan karakteristik seperti di atas, juga meningkat baik yang disebabkan oleh pertumbuhan (aktifitas) ekonomi dan penduduk, maupun fenomena perubahan iklim secara global.
Salah satu wilayah delta terbesar di dunia ini adalah yang sekarang menjadi kota Jakarta. Berbagai permasalahan yang dihadapi Jakarta seperti banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Jakarta juga menghadapi permasalahan seperti eksploitasi sumber air tanah yang sudah tidak mampu mendukung kehidupan warganya. Hal ini yang dihipotesakan sebagai penyebab terjadinya penurunan dataran (land subsidence) dan intrusi air laut ke daratan.
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana kita memecahkan permasalahan ini secara holistik. Pengelolaan wilayah delta yang unik seperti ini, memerlukan data yang lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Teknologi geospasial sebagai teknologi untuk mengumpulkan, mengolah dan menyajikan informasi keruangan dari objek yang berada di bumi, diyakini merupakan teknologi kunci untuk pengelolaan wilayah secara umum, termasuk wilayah delta. Dengan informasi geospasial diharapkan pengelolaan wilayah delta akan menjadi lebih komprehensif dan integratif karena memperhatikan semua aspek keruangan (termasuk aspek lingkungan).
Pengetahuan akan aspek bio-fisik perkembangan delta mungkin sudah cukup dipahami di kalangan komunitas ilmiah. Berbagai penelitian dan studi telah dan akan terus dilakukan, khususnya mengenai pemanfaatan teknologi geospasial untuk pengelolaan wilayah delta. Disamping itu, dengan telah disahkannya UU No.4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, maka perlu disosialisasikan bagaimana peran informasi geospasial dalam pengembangan wilayah di Indonesia.
Workshop ini diselenggarakan untuk menyebarluaskan pemahaman tentang delta dan untuk membahas bagaimana hasil-hasil penelitian dan pemanfaatan informasi geospasial dapat menjadi rekomendasi yang ditindaklanjuti oleh para pembuat kebijakan. Dengan kata lain, workshop ini dimaksudkan untuk menjembatani gap antara komunitas ilmiah dengan para pembuat kebijakan. Dengan pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat merubah cara pengelolaan wilayah delta ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk diselenggarakannya Workshop ini dengan tema “Geospatial Technology on Sustainable Delta Management”. Workshop ini merupakan bagian dari World Delta Summit yang diselenggarakan pada tanggal 21 – 24 November 2011, dan menitikberatkan pada pemanfaatan data dan informasi geospasial dalam mendukung pengelolaan delta secara berkelanjutan.
Workshop internasional ini dikemas dalam bentuk Talkshow, presentasi dan tutorial. Narasumber talkshow terdiri dari Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi, Deputi Pendayagunaan IPTEK, Kemenristek, Idwan Suardi dan Anggota DPR, Sohibul Iman. Pemaparan/presentasi mengenai pemanfaatan penginderaan jauh untuk pemetaan mangrove di wilayah delta dan pemetaan bathimetri, Electronic Navigational Chart dan bagi-pakai data geospasial kelautan. Sedangkan tutorial meliputi Dokumen Standar untuk Pemetaan Mangrove (SNI), Database Geo-Photo dan Retrieving Suspended Sediment from Meris Data Using Opensource Software.
Untuk informasi lebih lanjut dengan acara dimaksud, hubungi Pusat Survei Sumber Daya Alam (PSSDAL), munajati@bakosurtanal.go.id telp : 021-8759481 dan Pusat Pemetaan Dasar Kelautan dan Kedirgantaraan (PDKK), parluhutan@bakosurtanal.go.id, telp. 021-87901255.
download English Version (pdf)