Pelatihan Peneliti ASEAN Memantau Laut dan Danau dari Angkasa

Negara-negara ASEAN dalam kegiatan sub-committe on Science and Space Application (SCOSA) yang menginduk pada Committe on Science and Technology (COST) di ASEAN bekerja sama untuk mempelajari pemrosesan data satelit altimetri Topex dan Jason-1 dan 2 dan Cryosat-2 beserta aplikasinya mulai 12-16 Oktober 2009 di BAKOSURTANAL Cibinong. Penyelenggaraan dilakukan oleh BAKOSURTANAL sebagai tuan rumah bekerja sama dengan LAPAN dan Geoforschung Zentrum (GFZ) atau Pusat Penelitian Kebumian di Postdam Jerman. Kerjasama ini adalah perluasan dari kerjasama yang selama ini dilakukan dalam program German Indonesesia Tsunami Early Warning System (GITEWS).

GFZ adalah salah satu processing centre altimeter di Eropa yang telah berpengalaman dalam riset kebumian dan laut, khususnya pasang surut dan GPS. Pelatihan akan memberikan akses kepada peserta ASEAN dan Indonesia ke sistem mereka untuk melakukan pengolahan data secara remote lewat internet.

Training yang dilakukan dalam 5 hari ini akan mempelajari: i)pengenalan dasar pengolahan data Satelite Altimeter dan Cryosat-2, ii) pemanfaatan altimeter dalam perubahan iklim global yang berkaitan dengan kenaikan permukaan laut serta kondisi permukaan danau dan sungai-sungai besar di regional Asea Tenggara dan iii) juga ditambahkan pengetahuan tambahan untuk pemanfaatan data satelit altimetri pada perikanan.

Satellit altimetri memiliki keunggulan karena dari ketinggian angkasa satelit dapat menyapu permukaan lautan. Ketika satelit ini belum ada maka tak terbayangkan berapa lama dibutuhkan sebuah kapal untuk mengarungi seluruh jagad samudra. Kehebatan altimetri sejak diluncurkan awal tahun 90-an adalah dapat memberikan model bentuk permukaan lautan Pasifik saat fenomena alam Elnino terjadi. Laut memang memainkan peranan utama dalam menentukan iklim dan cuaca.

Cara kerja satelit altimetri adalah mengirimkan sinyal radar ke permukaan laut dan mengukur waktu tempuhnya hingga kembali ke satelit.

Permukaan laut tidak pernah tenang dan selalu bergejolak. Bila kita ingin menentukan tinggi permukaan laut maka kita perlu mengukurnya terhadap permukaan yang tetap dinamakan elipsoid. Ellipsoid ini adalah permukaan teorits, merupakan pendekatan terhadap permukaan bumi. Kedalaman laut tidak diketahui dengan pasti maka permukaan elipsoid inilah cara yang paling tepat untuk acuan pengukuran yang homogen dan teliti. Bagaimana menentukan topografi permukaan laut? Satelit bergerak pada ketinggian yang sudah teliti diketahui tingginya terhadap permukaan teoritis ellipsoid. Sinyal yang dipancarkan dari satelit dan dipantulkan kembali itu dapat menentukan tinggi permukaan laut sesaat. Maka tinggi permukaan laut adalah selisih tinggi orbit satelit terhadap tinggi permukaan laut terhadap satelit.

Apakah naik turunnya permukaan laut dan danau dapat diukur akurat dari ketinggian sekitar 800 meter di angkasa luar? Teknologi mutakhir ini sudah dipakai sejak awal 1990 dengan Satellite Topex Poseidon 1, proyek riset Amerika Serikat dengan Perancis. Kemudian menyusul dengan generasi berikutnya Topex 2 dan Jasson-1 dan Jason-2. Menyusul berikutnya Cryosat yang dapat lebih teliti mengukur lapisan es dan permukaan air tawar seperti danau. Adanya alat pengukur dengan wahana satelit ini telah menguak misteri dinamika permukaan laut yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Cryosat-2 memantau Bumi dari ketinggian di atas 700 km lintang 88 derajat. Satelit ini memantau perubahan ketebalan lapisan es kutub dan es yang mengapung di laut dengan keakuratan tinggi sehingga dengan kemampuan jangkauan observasi yang lebih luas, satelit ini telah menunjukkan hasil pemahaman yang lebih menyeluruh tentang laju menghilangnya lapisan es di darat dan di laut. Meski semula dirancang untuk lapisan es, kemudian kemampuannya dikembangkan untuk memantau permukaan danau dan sungai-sungai besar.


(Bidang Medan Gayaberat dan Pasang Surut, Pusat Geodesi dan Geodinamika, BAKOSURTANAL)