Rubrik
Berita Utama
Bisnis & Keuangan
Humaniora
International
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Metropolitan
Nusantara
Olahraga
Opini
Politik & Hukum
Sosok
Sumatera Bagian Selatan
Sumatera Bagian Utara
Yogyakarta
Berita Yang lalu
Anak
Audio Visual
Bahari
Bentara
Bingkai
Dana Kemanusiaan
Didaktika
Ekonomi Internasional
Ekonomi Rakyat
Fokus
Furnitur
Ilmu Pengetahuan
Interior
Jendela
Kesehatan
Laporan Khusus Aceh Baru
Laporan Khusus Hidup Bersama Bencana
Lingkungan
Lintas Timur Barat
Makanan dan Minuman
Muda
Musik
Otomotif
Otonomi
Pendidikan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Informal
Pendidikan Luar Negeri
Perbankan
Pergelaran
Perhubungan
Pixel
Properti
Pustakaloka
Rumah
Sorotan
Swara
Tanah Air
Teknologi Informasi
Telekomunikasi
Teropong
Wisata
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Humaniora
Jumat, 25 Agustus 2006

Masyarakat Indonesia Masih Buta Peta

Jakarta, Kompas - Sebagian besar masyarakat Indonesia masih kurang pemahamannya akan pentingnya teknologi dan informasi spasial dalam berbagai aspek kehidupan. Ini terlihat dengan peristiwa bencana alam di Indonesia masih kerap kali menelan banyak korban.

Padahal, jika telah memiliki data dan informasi spasial secara lengkap, pada saat bencana alam terjadi dengan mudah kita dapat melakukan inventarisasi lokasi yang terkena bencana, menetapkan tempat dan jalur evakuasi, serta desain rehabilitasi kawasan.

Bahkan keberadaan data spasial akan jauh lebih bermanfaat dalam mereduksi kerusakan dan korban jiwa apabila sebelumnya telah tersedia di daerah rawan bencana alam.

Hal ini dipaparkan Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas, pada pembukaan The First Indonesian Geospatial Technology Exhibition di Jakarta Convention Centre, Rabu (23/8).

Pameran yang diselenggarakan hingga Minggu (27/8), untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan HUT ke-37 Bakosurtanal, dibuka Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, bersamaan dengan pembukaan The Second Indonesian CDMA Exhibition 2006.

Tujuan komersial

Dalam sambutannya, Kusmayanto mengatakan bahwa peningkatan penggunaan data spasial di masyarakat perlu ditunjang dengan sarana komunikasi, yaitu telepon genggam yang telah digunakan masyarakat luas di Indonesia.

Pengembangan selanjutnya adalah pemuatan informasi peta dalam telepon genggam. Difusi antara infrastruktur telekomunikasi dengan konten termasuk juga data spasial dapat terjadi. Seperti halnya telepon genggam yang merupakan wujud perpaduan ilmu dasar, teknologi, seni, dan faktor ekonomi.

Teknologi geospasial saat ini telah digunakan di Indonesia untuk tujuan komersial, di antaranya pemasangan alat GPS pada armada taksi Blue Bird di Jakarta, untuk memantau pergerakannya dari stasiun pemantau di kantor pusatnya.

Perusahaan minuman Coca Cola juga telah menggunakan data geospasial ini untuk melakukan analisis pemasarannya.

Untuk memperkenalkan geospasial atau ruang kebumian kepada masyarakat, di tempat yang sama diselenggarakan pula lokakarya, talkshow bertema antara lain manajemen bencana alam, pemerintahan yang baik, kecerdasan spasial, dan pembekalan materi pengajaran kepada guru bidang kebumian.

Bagi para pelajar, sosialisasi geospasial dilakukan lewat lomba mewarnai peta, menggambar peta dan peta tematik, berpetualang dengan peta, dan menggunakan alat GPS (global positioning system) untuk mengetahui ordinat di muka bumi.

Pameran Teknologi Survei dan Pemetaan yang akan berlangsung hingga Minggu (27/8) ini antara lain diisi dengan workshop dengan subtema Geospasial dari Pengalaman Pengelolaan Bencana di Aceh, Demo Produk Geospasial, Pendidikan Geospasial, Berpetualang dengan Geospasial, dan Kursus Singkat untuk Para Perencana Daerah.

Pameran memajang sejumlah produk berupa instrumen survei (GPS receivers, electronic total station, sonar), produk data geospasial (citra satelit, foto udara, peta dasar dan tematik), perangkat lunak remote sensing, fotogrametri dan GIS. (YUN) 

Search :
 
 

Berita Lainnya :

Merajut Simpul-simpul Perekat Keindonesiaan

BPPT Dukung 9 Teknologi Utama

Masyarakat Indonesia Masih Buta Peta

Kapankah Indonesia Sampai ke Gerbangnya?

Ford Focus untuk Ristek

BOS Buku Tersandung Revisi

LANGKAN



Design By KCM
Copyright 2002 Harian KOMPAS