Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Catatan Geospasial : Nusamanuk, Penjaga Kedaulatan Laut Selatan

Gelombang laut selatan, Samudera Hindia, terus menerus menerpa pulau batu karang tepian Desa Cimanuk. Percikan buih putih yang mengenai batu karang hitam maupun gemuruh hempasan ombak disekitarnya, seakan menjadi teman dan melodi alam sehari-hari Nusamanuk, sebuah pulau kecil berbatu karang di selatan Tasikmalaya.

 

 

Pulau-pulau kecil terluar/terdepan di selatan Pulau Jawa memiliki arti strategis terkait dengan kedaulatan wilayah. Sebutlah nama seperti Pulau Nusabarong, Ngekel (Sekel), dan Panikan (Panehan) di Jawa Timur, Pulau Nusakambangan di Jawa Tengah, Pulau Deli di Banten, serta Pulau Nusamanuk di Jawa Barat. Di salah salah satu sudut bagian terluar dari pulau-pulau tersebut terdapat titik koordinat penting penanda kedaulatan wilayah. Titik koordinat tersebut saling terhubung bersama titik koordinat di tanjung-tanjung terluar membentuk garis imajiner bernama Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Garis imajiner inilah yang menjadi cikal awal perhitungan wilayah kedaulatan negara. Tulisan sederhana ini mencoba mengurai secara umum Pulau Nusamanuk (070 49' 11" LS dan 1080 19' 18" BT) ditinjau dari aspek geospasial maupun aspek terkait lainnya.

Tidak susah untuk menemukan pulau ini. Dari arah Pangandaran menuju Cipatujah dan Pameungpeuk, tatkala menyusuri pesisir selatan Jawa Barat, singgahlah sejenak di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong. Tidak ada penunjuk tulisan khusus ke arah pulau penting ini, tetapi cukup palingkan pandangan ke arah laut, akan terlihat dengan jelas sebuah pulau karang bernama Nusamanuk. Bangunan mercusuar setinggi kurang lebih 25 meter yang berdiri tegak di Pulau Nusamanuk sekaligus sebagai sarana bantu navigasi pelayaran setempat, menjadi penanda utama keberadaan pulau. Apabila dari Kota Tasikmalaya, dapat menumpang bus perdesaan jurusan Tasikmalaya-Cikalong-Cimanuk.

Sempatkan singgah sejenak di tepian Pantai Cimanuk sembari minum penghangat pelepas lelah dengan melihat pantai, paduan pantai karang dan berpasir, sambil memotret alam sekitar dan diri sendiri. Istilah anak muda sekarang melakukan selfie berlatar belakang alam laut selatan dan Pulau Nusamanuk. Jangan kawatir tidak memperoleh gambar pulau secara baik sebab anda dapat mengambil posisi di ujung bangunan pemecah gelombang (jetty) yang menjorok dari tepi pantai Desa Cimanuk. Pada posisi inilah, panorama biru laut dan cantiknya Nusamanuk terlihat jelas, apalagi dilakukan saat senja bersamaan dengan siluet kuning emas kemerahan matahari tenggelam. Bila kurang puas, pengunjung dapat menyewa perahu setempat menuju ke Pulau Nusamanuk. Namun harus tetap mengedepankan kehati-hatian dan keselamatan penyeberangan sebab ombak Samudera Hindia sangat tinggi.

Toponim atau nama tempat 'Nusamanuk' berasal dari dua kata yang terangkai, 'Nusa' dan 'Manuk'. 'Nusa' dalam bahasa daerah setempat berarti daratan yang dikelilingi oleh air dan 'manuk' berarti burung. Tidak mengherankan apabila nama tersebut melekat pada pulau ini sebab berbagai jenis burung sering dijumpai berada di sekitar pulau. Bentuk pulau memanjang, bentangan panjangnya kurang lebih 122 meter dan lebar kurang lebih 22 meter. Pulau berdiri kokoh karena material dasarnya berupa batu karang. Dari bibir pantai Cimanuk berjarak kurang lebih 260 meter. Secara fisik, sebenarnya masih terdapat 3 buah batu karang lain yang terpisah dari Nusamanuk, berjarak rata-rata 50 meter dari Nusamanuk.

Luas pulau yang hanya sekitar sepertiga lapangan sepakbola, berisi tumbuhan alami berupa semak belukar, beberapa pohon pandan laut, dan pohon kelapa. Tidak ada penghuni pulau, sesekali para nelayan singgah ke pulau ini untuk melepas penat dan kadangkala terlihat para pemancing yang nongkrong di bagian agak datar batu-batu karangnya menunggu umpan dimakan ikan. Beberapa sumber menginfokan, perairan sekitar Nusamanuk kaya akan ikan karang, ikan-ikan pelagis, dan lobster. Saat kami melakukan pengamatan lapangan, tampak tiga orang pemancing penduduk lokal sedang asyik memancing di ujung jetty. Salah satu dari mereka tersenyum riang ketika umpan termakan ikan. Benar saja, ikan ramping dengan panjang sekitar 40 centimeter sudah tertangkap mata kail.

Kawasan sekitar Nusamanuk, umumnya disekitar Desa Cimanuk merupakan kawasan wisata bahari andalan Kabupaten Tasikmalaya, disamping wisata bahari lainnya disisi bagian barat yaitu Pantai Cipatujah. Tidak jauh dari Nusamanuk, ke arah barat kurang lebih 2,5 kilometer terdapat tempat wisata yang menawarkan pesona batu karang. Tempat ini dikenal nama Pantai Karangtawulan. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031, mempertegas keberadaan kompleks ini sebagai kawasan pariwisata alam. Kalau Pantai Karangtawulan yang sudah terkenal, menawarkan potensi batu karang dan bongkahan karang, mirip seperti Pantai Batuhiu Pangandaran, maka perlu juga adanya promosi tentang pantai disekitar Pulau Nusamanuk yang menawarkan wisata alam pantai, sekaligus mengenalkan pentingnya posisi penting Nusamanuk sebagai pulau terluar Indonesia. Minimal perlu penunjuk arah, bahkan kalau perlu ada narasi singkat tentang pulau tersebut yang dipasang ditempat-tempat strategis di kawasan setempat.

Dalam peraturan daerah yang sama, kawasan ini bahkan lebih tegas ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK). Penetapan Nusamanuk sebagai KSP dari sudut pertahanan dan keamanan, sangat tepat mengingat pulau ini menjadi salah satu penentu wilayah kedaulatan negara. Pembangunan mercusuar di tengah pulau, merupakan bagian kecil dari bukti keberadaan negara pada pulau ini. Tentu tidak sebatas itu, perlu kesepakatan bersama untuk tidak merusak pulau ini, misalnya melakukan pembakaran vegetasi, penebangan liar,  atau tindakan lain yang dapat merusak keberlanjutan pulau. Termasuk dalam ini memperkuat kapasitas pengetahuan penduduk setempat akan pentingnya Pulau Nusamanuk. 

Dalam konteks KSK Tasikmalaya, penetapan Wisata Pantai Karangtawulan dan sekitarnya (termasuk Nusamanuk) yang disahkan sebagai KSK dari sudut kepentingan ekonomi cukup tepat. Kita ketahui bersama bahwa jalur selatan Jawa Barat relatif tertinggal dibanding jalur pantai utara (pantura) terutama fasilitas infrastruktur jalan. Ketertinggalan ini tentu berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bagian selatan. Untuk mendongkraknya maka pembangunan infrastruktur jalan terus dilakukan. Kini, jalan sudah mulus beraspal dan beberapa segmen jalan beton, mempermudah pelaku ekonomi dan pelancong menyusuri pesisir selatan Pangandaran-Sukabumi, tentu singgahlah sejenak di Nusamanuk, pulau terluar kita.

 

Pak Udin, satu-satunya penjaga warung kopi dan makanan kecil diujung bangunan jetty dekat Nusamanuk mengatakan sejak adanya pengerasan jalan, jalur selatan  semakin ramai. Di sisi lain beliau mengkawatirkan jalan akan rusak apabila tidak ada pembatasan muatan terutama truk-truk pengangkut pasir. Dari kacamata ekonomi, seorang pedagang kecil bernama Pak Udin sebenarnya merupakan pelaku usaha kecil yang memanfaatkan jasa lingkungan panorama Nusamanuk. Adakah pelaku usaha-usaha kecil lain yang dapat digerakkan karena efek dari pulau terluar Nusamanuk sambil terus meningkatkan kelestarian pantai dan pulau? Hanya waktu dan promosi Nusamanuk yang barangkali menjadi jawabannya.  

 

Penulis:
Fakhruddin Mustofa

Surveyor Pemetaan Muda, Badan Informasi Geospasial

 

Referensi:

-        Hasil Pengamatan Lapangan BIG, Januari 2016

-        Monografi Desa Cimanuk, Kec. Cikalong, Kab. Tasikmalaya

-        Perda Nomor 2 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Tasikmalaya 2011-2031

-        http://www.ppk-kp3k.kkp.go.id/direktori-pulau/index.php/public_c/pulau_info/440, diakses tanggal 5 Feb 2016 jam 11.00 WIB

http://www.beritasatu.com/ekonomi/337579-aher-sebut-400-km-jalan-di-jabar-selatan-dibeton.html, diakses tanggal 9 Feb 2016 jam 13.30 WIB