Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Belajar Spasial dari Go-Jek

-Danang Budi Susetyo-

Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim BIG

 

Naik daun, nge-tren, atau apapun namanya, data spasial kini memang sudah menjadi kebutuhan. Tak hanya soal perencanaan pembangunan, saat ini masyarakat sudah begitu dekat dengan data dan informasi geospasial yang lebih familiar disebut peta. Navigasi menjadi hal yang tak lagi asing di era teknologi seperti sekarang ini. Data spasial yang baik, dengan ditunjang aplikasi yang user friendly menjadikan peta digital hampir selalu ada dalam setiap gadget yang digunakan oleh masyarakat.

Google Map memang menawarkan suatu hal yang sangat luar biasa di bidang spasial. Data dasar yang relatif akurat, toponim yang (hampir selalu) benar, serta kualitas yang baik dari sisi topologi menjadikan ia begitu bisa diandalkan untuk keperluan navigasi. Tentu saja, karena jika data jalan yang ada tidak lengkap, lokasi point toponim yang dicari tidak sesuai, atau kualitas topologinya buruk, mustahil data itu bisa mengarahkan kita ke tempat tujuan.

Kecanggihan itu dimanfaatkan benar oleh sebuah perusahaan transportasi yang kini tengah naik daun : Go-Jek. Ya, perusahaan yang bergerak di bidang jasa antar-mengantar menggunakan ojek berbasis aplikasi itu benar-benar menggunakan data spasial untuk hal yang begitu dekat dengan masyarakat. Secara sederhana, aplikasi Go-Jek membutuhkan lokasi awal dan tujuan dari pelanggan, kemudian aplikasi akan mencari driver ojek yang berada paling dekat dengan lokasi awal yang ditentukan, sebelum salah satu driver mengkonfirmasi kesediaan untuk menjemput sang pelanggan. Hal menarik lainnya, aplikasi juga mengkalkulasi tarif ojek berdasarkan jarak yang ditempuh (dalam peta), sehingga soal harga, tidak akan ada pelanggan yang merasa tertipu meskipun ia belum mengetahui jalan yang harus ditempuh. Berbagai kemudahan inilah yang menjadikan aplikasi ini begitu digandrungi oleh masyarakat sekarang ini.


Penggagas aplikasi Go-Jek mungkin bukan seorang ahli pemetaan atau profesional di bidang geospasial, tapi ia paham benar bagaimana memanfaatkan peta untuk menunjang sesuatu. Pada dasarnya data spasial sebenarnya bukan merupakan hal yang asing untuk masyarakat, karena ketika seseorang berkata mengenai posisi atau lokasi, ia sesungguhnya sedang mendefinisikan sesuatu dari sudut pandang spasial. Terlebih lagi ketika teknologi memfasilitasi hal itu dalam bentuk navigasi, data spasial sebenarnya sudah begitu dekat dengan masyarakat. Terbukti, pendefinisian lokasi itu bisa diterjemahkan dengan baik oleh aplikasi yang memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS), sehingga peta dalam aplikasi bisa menentukan posisi device, sekaligus tujuan yang diinginkan oleh pengguna. Ketika dua posisi itu ditentukan, konsep network analyst dimanfaatkan untuk menentukan rute terpendek yang dapat dilewati oleh kendaraan, sehingga didapatkan jarak tempuh yang dapat menjadi dasar dalam perhitungan tarif. Itu adalah konsep “sederhana” dalam bidang spasial, tapi tidak semua orang mampu mengimplementasikannya dalam sebuah aplikasi yang dapat digunakan oleh semua orang.


Melalui aplikasi ini, kita dapat belajar bahwa untuk dapat membuat data spasial yang berguna bagi masyarakat luas, kebenaran informasi adalah hal yang harus diutamakan. Kebenaran ini terkait keakuratan geometriknya sekaligus informasi semantiknya. Aspek geometrik sangat penting terutama karena berkaitan dengan kelengkapan jalan, lokasi penempatan suatu objek bangunan (beserta toponimnya), juga topologi untuk menghasilkan network analyst yang akurat. Perlu peta skala besar yang baik untuk dapat menjalankan sistem seperti ini, karena tentunya rute terbaik baru akan dihasilkan ketika semua segmen jalan “tergambar” dalam peta.

Aspek kedua yang juga tidak kalah pentingnya adalah semantik atau atributnya. Ini berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam unsur geometri peta, seperti : informasi nama jalan, nama sebuah objek bangunan, atau informasi mengenai jalan satu arah. Kedua aspek itu saling melengkapi dalam penentuan posisi, baik lokasi device maupun tempat tujuan. Ketika kualitas dari kedua aspek tersebut terpenuhi, maka saat peta tersebut “dituangkan” dalam aplikasi yang mudah digunakan, sudah pasti masyarakat akan sangat senang untuk mengakses dan menggunakannya.

Kita tentunya berharap data spasial negara kita bisa mencapai level tersebut. Perlu usaha ekstra untuk mewujudkannya, karena membuat basis data spasial yang memenuhi syarat kualitas tersebut di seluruh pelosok nusantara memang bukan perkara yang mudah. Apalagi untuk menghasilkan navigasi yang baik, data yang dibutuhkan adalah data spasial skala besar, sedangkan untuk keperluan visualisasi juga diperlukan data skala yang lebih kecil. Ini tentunya memerlukan basis data multi-skala yang konsisten, sehingga tampilan data saat di zoom in dan zoom out menjadi logis. Untuk keperluan ini, sebenarnya generalisasi bisa menjadi opsi untuk menghasilkan konsistensi antar skala.

Pada akhirnya, kita tentu berharap data spasial yang kita hasilkan benar-benar bermanfaat untuk seluruh masyarakat Indonesia. Manfaat yang tidak hanya untuk kalangan pemerintah atau perusahaan yang pekerjaannya membutuhkan data spasial, namun lebih dari itu, data kita bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali. Tanpa terkecuali, masa dimana semua orang mengaktifkan komputer atau gadget mereka untuk mencari suatu tempat dengan mempercayakannya pada peta dasar kita yang ditunjang dengan aplikasi yang user friendly. Masa dimana share location dalam aplikasi chatting menggunakan lokasi yang berbasis pada data spasial produk dalam negeri. Masa dimana peta kita menjadi primadona karena digunakan dalam aplikasi-aplikasi jasa transportasi online. Apapun itu, bagaimana bentuknya, tentunya kita berharap data spasial negara Indonesia ini akan mencapai semua itu, sehingga manfaat yang dihasilkan menjadi jauh lebih luas untuk semua lapisan kalangan masyarakat Indonesia. (TR)